Dalam beberapa kasus tertentu, kita tidak dapat menggunakan model mesh dengan ukuran konstan. Sebagai contoh, ketika mensimulasikan udara di dalam balon yang mengembang, ukuran mesh bagian luar—yaitu diameter balon—akan bertambah akibat tekanan fluida.
Pada kasus yang lebih teknis, seperti pergerakan naik-turun piston di dalam silinder atau proses buka-tutup valve, kita diharuskan menggunakan mesh yang berubah terhadap waktu, yang dikenal sebagai dynamic mesh.
Selain itu, local adaptive mesh terkadang diperlukan untuk memperhalus area tertentu berdasarkan pergerakan fluida. Misalnya, dilakukan refinement pada zona dekat spray nozzle atau pada area free surface untuk meningkatkan akurasi tanpa harus memperhalus seluruh domain, sehingga tetap menghemat biaya komputasi.

Untuk kasus yang melibatkan pergerakan dengan karakteristik seragam pada orientasi tertentu, seperti rotor pada centrifugal blower, pemodelan dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu region yang dihubungkan melalui sebuah interface.
Diperlukan suatu permukaan yang bergerak relatif antara bagian luar dan bagian dalam untuk mentransfer data antara kedua domain tersebut. Hal ini dikenal sebagai sliding interface, seperti yang ditunjukkan pada Gambar berikut

Karena adanya gerakan relatif antara mesh bagian dalam dan luar, pendekatan ini juga dikenal sebagai sliding mesh. Sliding mesh dapat diterapkan baik untuk gerakan rotasi maupun translasi.
Input pergerakan pada dynamic mesh dapat didefinisikan sebagai constraint, misalnya gerakan linier maju-mundur seperti pada kasus valve, atau berupa input kecepatan rotasi konstan seperti pada kasus centrifugal blower.
Referensi
Leave a Reply